Archive for February, 2009
APAKAH UANG ADALAH SEGALANYA ?
Kembali lagi aku berkesempatan makan malam bersama sahabatku yang sekaligus juga adalah guruku dalam belajar beberapa software dan nilai-nilai kehidupan. Kali ini kita makan malam dengan menu pecel lele, tapi aku lebih memilih makan ayam goreng yang terlihat porsinya lebih besar. Kembali ke judul diatas….yang akan aku share ini bukanlah mengenai makan malam ku, akan tetapi kembali aku belajar mengenai hidup yang merupakan pengalaman nyata yang dialami langsung oleh sahabatku ini melalui sebuah pembicaraan disela-sela makan malam.
Malam itu ia bercerita mengenai pengalamannya ketika ia masih bekerja di sebuah agency di Jakarta. Sebuah agency yang cukup mempunyai nama sehingga para kliennya pun adalah perusahan-perusahaan besar di Indonesia. Dengan pengalaman bekerja dan belajar di Ausie, sahabatku ini dapat dikatakan sangat ahli dibidangnya (web dan design grafis), sanggup bekerja dibawah tekanan serta semua mengerjakan hal yang berbau dadakan.
Ia bercerita bahwa pada suatu saat ia mendapatkan proyek dari sebuah perusahaan telekomunikasi di Jakarta, proyek ini adalah proyek dadakan karena sang Manajer akan presentasi di depan Menteri maka kemudian pengerjaannya pun langsung diawasi oleh sang Manajer tersebut. Sahabatku ini bercerita betapa sang Manajer ini cerewet sekali, sekalipun ia mengetahui pengalaman dan kemampuan sahabatku. Bahkan menurut sahabatku, sang Manajer ini meremehkan sahabatku dengan mengatakan bahwa ia mampu untuk membayar dengan harga berapapun yang diminta. Walaupun bekerja dengan kesal sahabatku berhasil menyelesaikan proyek tersebut dengan memuaskan, bahkan sang Manajer itu pun puas dengan hasil dari proyek tersebut. Kemudian dengan akuhnya sang Manajer bertanya : “Katakan berapa yang kamu mau untuk pekerjaan ini?”
Dengan tenangnya sahabatku berkata : “Ini gratis buat anda”
Bagaikan terkena petir di siang hari, sang Manajer mendadak terdiam, gugup, dan salah tingkah. Seperti bermain catur, sang Manajer sudah Skak Mat tak bisa bergerak lagi.
Sungguh bukan jawaban yang diharapkan oleh sang Manajer, hingga ia pun pergi meninggalkan sahabatku.
Beberapa hari setelah itu sahabatku ini diundang oleh sang Manajer untuk makan siang di kantornya sebagai ganti bayaran atas proyek sebelumnya, tapi tawaran itu berulang kali ditolak karena sahabatku sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya. Karena tidak menemukan cara lain untuk membayar hutangnya itu sang Manajer terus mengundang sahabatku makan siang bersamanya, hingga pada suatu saat sahabatku menerima tawaran makan siang itu di kantor sang Manajer.
Sungguh sebuah acara makan siang yang luar biasa, dari mulai tiba hingga selesai makan siang sahabatku ini di perlakukan sangat hormat, bahkan dapat dikatakan berlebihan sekali. Bahkan bawahan sang Manajer berkata kepada sahabatku bahwa sang Manajer tidak pernah sama sekali berlaku seperti itu, sang bawahan itu terheran-heran hingga ia bertanya siapakah sahabatku ini. Ia bertanya apakah sahabatku ini masih ada hubungan saudara dengan sang Manajer? dan ketika sahabatku berkata “tidak” sang bawahan berkata, “Jangan-jangan Bapak (sang Manajer) pernah punya hutang nyawa kepada anda?”. Spontan sahabatku tertawa, ia kemudian berkata, “Kamu akan tahu suatu saat nanti” seraya berlalu meninggalkan kantor sang Manajer.
Benar saja, sahabatku mendapatkan informasi yang cukup mengejutkan bahwa telah terjadi perubahan yang sangat drastis pada sang Manajer dimana ia lebih bijak dalam memperlakukan karyawannya, bahkan sahabatku menjadi sangat akrab dengan sang Manajer.
Waktu berlalu dan sudah lama sahabatku ini tidak pernah bertemu lagi dengan sang Manajer, dan suatu saat sang Manajer berkata pada sahabatku melalui YM bahwa ia sangat berterima kasih pada sahabatku, dan ia bercerita bahwa ia telah pindah pekerjaan dan menjadi Direktur di tempat bekerjanya yang baru.
Ada kejadian lucu yang kemudian terjadi, dimana hingga saat ini sahabatku ini sering mendapatkan kiriman hadiah yang tidak pernah ada tulisan siapa pengirimnya. Istri sahabatku sering bertanya siapakah yang mengirimkan ini?, dan sahabatku hanya tersenyum dan berkata ia tahu siapa yang mengirimkan. Tidak jarang pula tiba-tiba sahabatku mendapatkan proyek dari beberapa perusahaan yang mengaku mengetahui track record sahabatku, dan ketika di konfirmasi mereka mendapatkan rekomendasi dari siapa mereka tidak menjawab. Pernah sahabatku bertanya apakah dari bapak A? awalnya mereka menjawab tidak, tapi setelah dipaksa mereka pun mengaku bahwa memang benar dari bapak A.
Setelah bercerita, sahabatku berkata padaku bahwa ia sangat bahagia, bahkan kebahagiaan ini masih terasa hingga saat ini. Kebahagiaan ini tidak dapat digantikan oleh uang berapapun besarnya, yaitu kebahagiaan ketika melihat orang lain bahagia atas perbuatan atau karya kita, dan ini juga yang menjadi alasannya mengapa masih tetap bertahan bekerja di ESQ walaupun saat ini ia mendapatkan gaji yang lebih sedikit dibandingkan dengan tempatnya dahulu bekerja.
Sekian
Tatang
1 comment February 16, 2009









